Home / Banda Aceh / Hukrim

Selasa, 19 Oktober 2021 - 12:07 WIB

Polda Aceh Ungkap Penjualan Kartu Perdana Selular Yang Teregistrasi NIK dan NKK Orang Lain

REDAKSI - Penulis Berita

Ilustrasi

Ilustrasi

NOA l Banda Aceh – Polda Aceh berhasil mengungkap tindak pidana ITE di sejumlah wilayah Provinsi Aceh.

Sejumlah wilayah yang menjadi sasaran pengungkapan itu meliputi Kota Banda Aceh, Bireuen, Kota Lhokseumawe dan Aceh Tamiang.

Dirreskrimsus Polda Aceh Kombes Pol. Soni Sanjaya, S. I. K, yang didampingi Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Winardy, S. H., S. I. K., M. Si, Selasa (19/10/2021) mengatakan, kasus itu berhasil diungkap berawal dari Tim Subdit V Tipid Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh telah mendapati Informasi dari masyarakat.

Informasi itu, katanya, bahwa telah beredarnya kartu Perdana Seluler (MSISN) yang telah teregistrasi NIK dan NKK yang diperjual belikan di wilayah Hukum Polda Aceh.

“Selanjutnya Tim penyelidik melakukan Penyelidikan di beberapa Kota diantaranya, Kota Banda Aceh, Kabupaten Bireuen, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Tamiang,” sebut Ditreskrimsus.

Kegiatan Penyelidikan, terangnya, dilakukan dari tanggal 11 Oktober 2021 sampai dengan tanggal 16 Oktober 2021.

“Penyidik Subdit V Tipid Siber Dit Reskrimsus Polda Aceh telah mengamankan barang bukti ke Polda Aceh dan telah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi–saksi,” ucap Dirreskrimsus.

Dijelaskannya, pada hari Senin tanggal 11 Oktober 2021 penyelidik Subdit V Siber Polda Aceh melakukan penyelidikan di kota Banda Aceh dan menemukan 1 toko dengan berinisial SP.

“Toko ini beralamat di jalan T. Umar Desa Geuce Kayee jato Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh,” kata Dirreskrimsus.

Baca Juga :  Disdik Aceh Gelar Lomba Aceh Marching Band Championship-VI Tahun 2021

Kemudian, lanjutnya, penyelidik membeli 1 buah kartu perdana seluler dari provider Telkomsel dan dilakukan pengecekan terhadap 1 buah kartu perdana seluler yang telah diterima oleh penyelidik.

“Setelah diselidiki kartu yang didapatkan tersebut, bahwa kartu tersebut telah teregistrasi NIK dan NKK dari data penduduk di Jawa Tengah,” terang Dirreskrimsus.

Berdasarkan bukti tersebut, sambungnya, penyelidik melakukan upaya hukum dengan mengamankan saksi berinisial WH dan barang bukti yang ada serta melakukan interview terhadap para saksi.

Kemudian, lanjutnya, pada tanggal 14 sampai dengan 15 Oktober 2021 Tim Penyelidik melakukan penyelidikan di Kabupaten Bireuen dan Kota Lhokseumawe.

“Tim mendapatkan Informasi bahwa banyak beredar kartu Perdana Seluler (MSISN) yang diperjual belikan oleh pedagang kartu di daerah Bireuen dan Lhokseumawe berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang,” tutur Dirreskrimsus.

Berikutnya, pada hari Sabtu, tanggal 16 Oktober 2021 Pukul 20.30 wib, Tim Subdit V Tipid Siber beserta unit Tipidter Satuan Reskrim Polres Aceh Tamiang melakukan pemantauan dan penyelidikan terhadap Toko dengan inisial FD Ponsel dan mendapati informasi bahwa toko tersebut memperjualbelikan kartu perdana seluler telah teregistrasi NIK dan NKK di wilayah hukum Aceh Tamiang.

“Kemudian tim mengamankan Barang Bukti yang ada di toko Beralamat Jln. Pajak pagi simpang empat kota lintang atas Kota Kuala Simpang (Aceh Tamiang) ke Polres Aceh Tamiang serta melakukan pemeriksaan terhadap para saksi,” terang Dirreskrimsus.

Baca Juga :  Pemerintah Resmikan Pusat Studi Arsip Kebencanaan Tsunami di Aceh

Dari hasil ungkapan itu, sambungnya, barang bukti yang diamankan di Banda Aceh berupa, 20 kotak Kartu perdana loop, 2 kotak Kartu Axis, 6 kotak Kartu perdana As (belum registrasi), 4 kotak Kartu Telkomsel (aktif), 12 kotak Kartu Telkomsel (belum registrasi), 1 unit komputer Lenovo, 4 unit Laptop (aktif), 5 unit Modem Loop (aktif), dan 2 unit Modem Loop (rusak)

“Sedangkan barang bukti yang diamankan di Aceh Tamiang, berupa 3 unit laptop merk DELL warna silver, 6 unit flasdisk merk SANDISK warna merah hitam, 4 unit modem pool merk FOXCOM warna hitam,3 unit modem pool merk LEKA warna hitam, 10 unit carger laptop,” kata Dirreskrimsus.

Selanjutnya, juga ada 1 unit monitor merk SAMSUNG warna hitam, 2 unit cpu rakitan warna hitam,1 unit cpu rakitan merk warna putih, 2 unit keyboard merk SYBOARD warna hitam, 2 unit modem merk HIGH GIAT warna putih, 1 unit cpu merk LG warna hitam.

“Juga 1 unit monitor merk ALCATROZ warna hitam, 1 unit flasdisk merk TOSHIBA warna putih,1 unit laptop merk HP warna hitam,1 unit laptop merk ACER warna hitam,” terang Dirreskrimsus.

Kemudian, katanya, 1 unit cpu merk MICROTON warna putih, 1 unit monitor merk RAEAN warna hitam, 1 unit keyboard merk POWER UP warna hitam, 25 kotak kartu perdana 25 GB, 13 kotak kartu perdana 6,5 GB, 3 kotak kartu perdana 15 GB, 18 kotak kartu perdana AXIS yang masing masing berisikan 1000 pack,” terang Dirreskrimsus.

Baca Juga :  Kantor Pusat Operasional Bank Aceh Syariah Lakukan Edukasi dan Inklusi Keuangan Pada SD Negeri 24 Banda Aceh

Lanjutnya, juga ada barang bukti berupa 2 kotak kartu perdana 1 GB yang masing masing berisi 600 pack, 3 kotak kartu perdana sudah terdaftar dan 25 kartu simpati.

“Dalam kasus ini identitas ada 2 orang saksi atau calon terlapor, masing-masing berinisial WL, 36 Tahun, beralamat Desa Geuce Kayee Jato Kec. Banda Raya Kota Banda Aceh dan inisial RI, 36 Tahun, Karyawan swasta beralamat di Desa Kota Lintang Kecamatan Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang,” kata Dirreskrimsus.

Adapun modus operandi, jelasnya, yang dilakukan adalah dengan sengaja dan tanpa hak melakukan registrasi SIMCARD Kartu Perdana dengan menggunakan NIK dan NKK milik orang lain dengan menggunakan perangkat elektronik.

“Dan memperjualbelikan SIMCARD Kartu Perdana yang telah teregistrasi NIK dan NKK kepada pedagang kartu eceran yang ada di kabupaten dan kota,” kata Dirreskrimsus.

Dalam tindak pidana ITE ini, sambungnya, Pasal yang disangkakan, yaitu Pasal 35 Jo pasal 51 ayat (1) UU ITE ttg manipulasi data/dokumen elektronik sehingga seolah-olah data yang otentik dan Pasal 94 UU No. 24 THN 2013 atas perubahan UU No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan terkait memfasilitasi dan atau memanipulasi data kependudukan dan atau elemen data penduduk.

“Sementara ancaman hukumannya adalah dipidana dengan pidana penjara setinggi tingginya 12 tahun penjara,” tutup Dirreskrimsus.(RED).

Share :

Baca Juga

Advertorial

DisKop UKM Aceh Gelar Bimtek Multimedia Digital bagi Wirausaha Muda

Hukrim

Satresnarkoba Polres Lhokseumawe Ringkus Tiga Tersangka Penyalahgunaan Narkotika

Hukrim

Tim Rimueng Ringkus Pelaku Pencurian Handphone di J&T Cabang Banda Aceh

Banda Aceh

Sertijab di Gedung DPRA, Dian Rubianty Memimpin Ombudsman Aceh

Aceh Barat Daya

Gasak Tablet Untuk Chip, Begini Kronilogis Aksinya

Banda Aceh

Resmi dilantik Jadi Sekda Aceh, Pospera Minta Bustami Profesional dan Merakyat

Hukrim

Terbukti Korupsi, Mantan Keuchik Pulau Bunta Divonis Empat Tahun Penjara

Banda Aceh

Persiapan HUT Ke-76, Ketua SPS Aceh : Jaga Kekompakan dan Solidaritas