Penulis : Kas Pani
Kalau kau tak percaya, datang saja ke kampungku, Gosong Telaga. Di seberang sungai, ada kuburan panjang. Orang-orang menyebutnya Kuburan Tampat. Panjangnya sekira dua belas meter.
Di bawah pohon Rambung besar dengan dahan dan ranting penuh daun, terbaring seorang ulama asal Timur Tengah, bernama Syekh Maulana Abdul Qadir yang perahunya pecah akibat gelombang dan jasadnya terdampar di pantai Gosong Telaga, lalu dikuburkan dekat pantai tersebut. Makam ulama ini yang dinamakan penduduk Kuburan Panjang.
Di sekitar makam, pernah ada pemukiman dengan bukti di sekitar pohon rambung banyak kuburan warga. Betul, bahkan buyutku di kuburkan di sini.
Dua lebaran kemarin orang sekampung ziarah ke kuburan panjang. Tapi aku tidak ikut walau ada pengumuman lewat toa masjid. Aku bersama keluarga ziarah kepemakaman mertua di Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Ziarah ke kuburan Tampat atau Kuburan Panjang telah bertahun-tahun dilakukan masyarakat, dan telah menjadi tradisi.
Setiap Dua Syawal, orang-orang berbondong ziarah ke makam Tampat sesuai motivasinya. Ada yang berzikir, berdoa, dan tidak sedikit yang melepaskan nazar.
Persis, di depan kuburan panjang, ada sumur tua yang airnya dingin, jernih dan tidak asin. Pada hal dekat laut.
Masa kecil ku, jika ziarah, aku sering disuruh mandi, agar terangkat semua penyakit.
Sebagian masyarakat percaya air sumur bisa menyembuhkan penyakit. Tapi harus hati-hati jangan sampai kecebur, jika tidak ingin tubuh hanyut hingga ke laut. Menurut cerita dasar sumur ada rongga atau terowongan yang bisa menghanyutkan hingga ke laut.